Masuk | Daftar
 

Kegiatan

Catatan Ringan Perjalanan Tim Cerdas Bermedia untuk Toleransi (2)

oleh Andi Makmur Makka (Project Director) on 2 Juli 2010 | 7 Komentar

Topik : , , , , ,

Ambon Manise (2)

"Ambon sekarang berbeda dengan keadaannya sepuluh tahun yang lalu, saat belum terjadi konflik. Kini wajah Ambon telah berganti, tidak hanya pada tatanan infrastruktur kota, tapi yang paling penting adalah pola pergaulan anak mudanya yang terus berubah. Ada batas jelas antara anak muda Islam dengan Kristen, baik dalam hal gaya, pilihan makanan hingga pilihan idola. Tentunya ini bukanlah perubahan baik mengingat kota yang berada di ujung teluk Nusaniwe ini selalu membawa sisi-sisi roman yang sarat dengan emosi......

Konflik selama lebih dari tiga tahun di Ambon telah menyebabkan tajamnya disparitas identitas anak muda hingga saat ini. Identitas tidak lagi terbelah antara siapa anak muda urban Ambon dengan siapa yang bukan, melainkan antara anak muda Ambon yang beragama Kristen dengan anak muda Ambon yang beragama Islam. Anak-anak muda migran yang selama ini inferior, seperti anak muda Buton, Jawa dan Makasar berafiliasi ke anak muda Islam Ambon.

Meski telah damai, kota Ambon masih menyisakan batas-batas kultural yang semakin menguat perbedaannya antara Kristen dan Islam".

Ini resensi buku yang saya baca beberapa hari sebelum berangkat ke Ambon. Buku itu ditulis oleh Hatib Abdul Kadir berjudul "Bergaya di Kota Ambon" dan diresensi oleh Moh. Rusdi. Rasanya getir juga hati saya membacanya. Apalagi ketika saya teringat pertarungan masa konflik yang saya baca dan langsung monitor dari para wartawan di surat kabar dimana saya bekerja waktu itu. Padahal konflik sudah berlalu lebih satu dekade.

Namun bayangan masa lalu itu sirna begitu kami mendarat di bandara Pattimura kota Ambon. Ini kunjungan saya yang pertama setelah terjadi konflik. Sebelumnya saya sudah berkunjung ke kota Ambon dua kali. Langit di atas bandara Kapitan Pattimura ketika kami turun dari pesawat sedang mendung. Terasa teduh perasaan, apalagi setelah kami memasuki bandara yang tidak terlalu besar dan tidak sibuk seperti Makassar. Melihat suasana dan ornamen di bandara, saya tiba-tiba merasa sedang berada di sebuh kawasan pedesaan di Malanesia, Guam, Hawaii yang pernah saya lihat. Suasana itu lebih mengental ketika saya menikmati pemandangan alam pedesaan dalam perjalanan dari bandara ke kota Ambon. Rumah-rumah penduduk, baik yang terbuat dari batu bata maupun kayu, terhampar berjarak di atas tanah subur dengan pekarangan yang luas. Pohon kelapa dan tumbuh-tumbuhan khas daerah tropis menambah keteduhan suasana pedesaan itu. Saya teringat penyanyi senior Bram Aceh (alm) asal Ambon di tahun 70-an ketika menyanyikan lagu "Rame-Rame Patah Cengkeh" dengan alunan irama keroncong. Andainya semua itu kami bisa dinikmati sekarang pada suasana alam seperti sekarang ini, dunia ini akan terasa indah dan harmonis, tidak pernah ada konflik.

Tim Literasi Media

 

Perjalanan terasa cukup lama, jarak tempuh dari bandara ke kota berkisar satu jam, karena kami memilih lewat darat. Kami tidak berhenti di Halong, pelabuhan penyeberangan untuk memakai ferry yang hanya beberpa menit bisa sampai ke pusat kota. Tidak apa, kami justru menikmati perjalanan tersebut. Pak Thamrin Ely dan penulis, tim Serasi/THC ke kota Ambon sama dengan yang ke Palu. Mereka adalah Wenny Pahlemy, dan Ghazali Moesa.

Lewat Batu Merah, jalanan poros ini masih begitu juga, siang dan malam selalu macet. Padahal kawasan Batu Merah adalah satu-satunya jalan dan pintu masuk kota Ambon. Ini resiko memakai jalur darat. Batu Merah juga terkenal ketika masa konflik, karena menjadi lokasi konsentrasi massa besar-besaran. Pak Thamrin Ely, tokoh masyarakat Ambon yang tetap memandu Tim Literasi Media THC, meyakinkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang. Keadaan sudah kondusif, masyarakat sudah sadar bahwa mereka dulu hanya diprovokasi. Kini masyarakat harus hati-hati menjaga suasana ini tetap langeng. Penjelasan Pak Thamrin, saya yakin pernyataan yang autentik, karena dialah salah satu tokoh penandatangan Perjanjian Damai Malino. Dia juga saksi sejarah konflik di Ambon. Apa yang diucapkannya memang terbukti. Kehidupan masyarakat sekilas dalam perjalanan masuk kota sangat damai, pembauran etnis yang multikultur kelihatan normal.

Setelah beristirahat sejenak di Hotel Amaris tempat kami menginap, kami sudah mengatur perjanjian bertemu dengan Manager Radio dan mitra lokal kami di Ambon Dra. Simona Litaay yang menjadi dosen Universitas Pattimura, isteri seorang pendeta. Dra. Simona ternyata murah senyum dan cepat akrab dengan kami. Dari laporannya, ternyata semua SMA yang akan kami kunjungi sudah siap dan menerima kami besok harinya. Pemerintah daerah juga sudah memberikan izin lewat Kadis Pendidikan kota Ambon. Malam itu, kami harus melepaskan lelah dan makan bersama ikan bakar ala Ambon dengan bumbu dabu-dabu. Terasa segar setelah kami pulang dan istirahat di hotel Amaris, hotel yang kondisi ruangan dan aksesori kamarnya serba baru, hotel ini masih terhitung "soft opening". "Nona-nona" manajer dan Mbak Yola manajer pemasaran yang datang dari kantor pusat Jakarta, masih bertugas temporer di sini, ramah menyambut kami tamu seasal mereka dari Jakarta.

Keesokan harinya, kami masih ingin melapor ke Kadis Pendidikan di kantor Walikota. Sayang sekali, setelah apel pagi, Kadis telah sibuk dengan berbagai aktivitas sehingga kami tidak sempat lagi menemuinya. Dra. Simona mengajak kami meneruskan perjalanan mengunjungi sekolah-sekolah yang sudah siap menunggu kedatangan kami. Kunjungan kami mulus, mulai di SMA Kartika dan seterusnya, semuanya menyambut hangat dan antusias. Pak Thamrin selalu bertindak memperkenalkan kami dan tidak bosan-bosan, dari sekolah ke sekolah saya juga memperkenalkan apa itu The Habibie Center, program literasi media, setelah itu Wenny dan Ghazali bertugas memberikan keterangan apa yang harus diketahui mengenai pelaksanaan program Literasi Media.

Dua hari mengunjungi sekolah-sekolah selesai, pekerjaan yang tidak kalah pentingnya, merekrut tenaga ToT yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswi yang sudah dipersiapakan mitra lokal Dra. Simona Litaay. Anak muda calon "trainer" ini tidak kalah antusiasnya. Belum sehari setelah tes dilaksanakan, sejumlah mereka sudah menanyakan, apakah mereka lulus atau tidak kepada ibu dosen mereka Dra. Simona. Setelah mereka dihubungi langsung melalui ponsel masing-masing, bahwa mereka lulus, masih ada yang tidak yakin dan menilpon lagi. Dra. Simona, ibu dosen mereka sekaligus mitra lokal Serasi-THC, menyampaikan bahwa jika mereka sudah ditilpon, tentu kalian sudah lulus.

Trainer Ambon

"Mereka sangat gembira, tetapi banyak yang tidak percaya jika mereka lulus dan diterima sebagai trainer. Karena itu mereka mau lebih yakin dengan menilpon saya", kata Dra. Simona menceritakan tingkah "nyong dan nona-nona Ambon" calon trainer ini.

Empat hari di kota Ambon cukup efektif menyelesaikan semua tugas, mengunjungi sekolah tempat dilaksanakannya pelatihan literasi media, merekrut dan mengetes calon trainer, memesan hotel dan ruangan untuk pelatihan kelak. 

Giliran menikmati kuliner khas Ambon juga tidak ketinggalan. Malam hari ngelayap menikmati "nasi kelapa" dengan ikan "colo-colo", nasi kuning di emperan toko "ala Madura", Coto Makassar "ala Ambon", bahkan kuwe "Asida", khas Maluku di desa Hitu, beberapa kilometer di luar kota Ambon, kuwe yang asalnya konon dari daerah Timur Tengah dan panganan khas di bulan puasa. Rasanya? Apa lagi jika tidak beraroma cengkeh, rempah yang membuat Maluku terkenal di belantara dunia sejak berabad lalu. Tidak ketinggalan kami lewati Pantai Natsepa yang terkenal dan tempat bersejarah "benteng pertahanan" Waitattiri, pemandangan "Pintu Kota", pisang goreng panas, sayang tanpa rujak. Selamat tinggal Ambon Manise.

 

| More
Page Rate:
Rate this page:

Kirim komentar anda

Komentar

  • Dangke Ade untuk dukungannya. Mari dukung terus dengan berbagi kepada kawan-kawan yang lain terkhusus dengan proyek AMBOINA CYBER SOCIETY yang saat ini sedang kami persiapkan

    Kata Vikas, Pada 15/03/2012 2:09am (3 tahun lalu)

  • saya sangat menyesal dengan kerusuhan baru baru ini tanggal 11 september 2011 terus terang sampai saat ini kita tidak percaya dngan keamanan saat ini dan menandakan bahwa ketahanan lokal maupun ketahanan nasional masih rendah mudah diprovokasi oleh pihak luar maka dari itu beta selaku anak maluku dan salah satu alumni fkip unpatti ambon tahun 2000 pling ndak setuju klo rms dan fkm maupun provokator dari pihak kristen dan muslim saling memprovokasi massa yang tidak tahu apa apa jngan sampai ambon kembali terjadi kerusuhan jilid kedua saran saya kepada pihak polda maluku khususnya brimob langsung saja menembak mati provokator baik dari islam maupun ddari kristen yang otaknya dangkal serta pemerintah daerah maluku harus mengusukan kepada mabes abri tuk mendirikan perwakilan bin taingkat daerah sbb klau tidak akan terjadi kerusuhan yang baru titip salam untun ibu mona litaay dosen fisip unpatti jurusan sosilogi

    Kata recky wosia saudaranya mona litaay anaknya oma lis manuputty dan suaminya opa samuel litaay, Pada 14/09/2011 6:15pm (3 tahun lalu)

  • rinduuu asidaaa

    Kata idha kasten, Pada 15/04/2011 2:33pm (4 tahun lalu)

  • ditunggu kdatangannya di amq ya kak!!

    Kata sade christy tamaela, Pada 24/07/2010 3:09pm (4 tahun lalu)

  • ditunggu ya kdatangannya tim habibie center di amq..

    Kata sade christy tamaela, Pada 24/07/2010 3:08pm (4 tahun lalu)

  • Weleh2...liat nama beserta foto-foto makanannya jadi laper...

    Kata Raden Andi Ramdani, Pada 05/07/2010 11:55am (4 tahun lalu)

  • Wah rasanya kepingin segera berangkat di akhir Juli, nih!!!!! :))) Ambon, wait for meeeeee!!! :)))

    Kata Dewi, Pada 03/07/2010 7:16am (4 tahun lalu)

Feed RSS untuk komentar pada halaman ini | RSS feed for all comments

 
 

Jl. Kemang Selatan No. 98 Jakarta Selatan 12560 - Indonesia
P: 6221 7817211 F: 6221 7817212 E: thc@habibiecenter.or.id