Masuk | Daftar
 

Artikel

Memahami Bangsa Kita

oleh Afiat Anang on 29 Desember 2011 | 0 Komentar

Topik : ,

Beberapa waktu yang  lalu, Alhamdulillah saya mendapat kesempatan mengikuti sebuah seminar terbuka tentang masalah disintegrasi yang terjadi di Papua, yang diadakan pada waktu berita tentang berbagai kejadian yang bersifat kekerasan dan aksi-aksi separatisme marak muncul di berbagai media, yang kemudian berita itu tertutupi dengan isu lain (entah pengalihan isu atau apa pun lah).  

Pada waktu itu seminar mendatangkan berbagai narasumber yang sangat  kompeten yaitu Hamid Awaluddin, Anhar Gonggong, Velix Wanggai (staf khusus presiden, orang asli Papua), Dave Lumenta (antropolog), Abd. Rivai Raas (DEPHAN). Beliau-beliau itu memaparkan masalah Papua ini dari persektif pekerjaan dan keilmuan masing-masing. Pak Velix Wanggai (staf khusus Presiden) menurut saya dan beberapa teman yang hadir waktu itu menjelaskan dengan sangat-sangat normatif karena hanya menjelaskan garis besar dari kebijakan pemerintah, tapi terlihat seakan menutup mata dari kondisi Papua yang terjadi saat ini seperti dengan kekerasan dsb. Saat itu saya pribadi berfikir pak Velix ini kan putra asli Papua, lha kok paparane mung koyo ngene, yang ternyata setelah saya ngobrol dengan teman-teman ternyata mereka juga berfikiran sama.

Kebetulan pada waktu itu datang juga seorang mahasiswa asli Papua yang menceritakan bebrapa cerita di Papua, seperti kekayaan yang hanya dinikmati pejabat dan beberapa orang tertentu di Papua, ketidaktahuan akan bendera Indonesia, masalah KTP yang tidak pernah dimiliki oleh masyarakat Papua, yang hanya didapat ketika mendekati pemilu dsb.  

Sebuah Pernyatan yang kemudian dijawab oleh Prof. Anhar dengan gaya beliau yang sedikit menyindir, seharusnya  sila kelima Pancasila saat ini diganti dengan kata keadilan sosial bagi segelintir rakyat Indonesia. Coba anda pikir memang seharusnya itu kan yang dipakai!!!!!

Penjelasan yang cukup menarik lainnya adalah dari Mas Dave, beliau ini menjelaskan lebih objektif sebagaimana posisi beliau sebagai seorang antropolog. Beliau menyatakan saat ini cita-cita asli NKRI telah dirusak oleh beberapa orang, jadi memang kalau dipikir apa yang terjadi di Papua yaitu sebuah keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI adalah sebuah kewajaran, Mas Dave menganalogikan hal ini seperti sebuah kapal yang besar (NKRI) yang membawa berbagai penumpang menuju sebuah pulau (kesejahteraan), namun ternyata si nahkoda (pemimpin) membelokkan arah ke pulau lain yang tak jelas rimbanya, jadi wajar para penumpang memilih untuk meninggalkan kapal tersebut dan mencari sarana lain untuk mencapai pulau tujuan awal.

Mas Dave juga menjelaskan bagaimana ketika seseoerang akan menjadi seorang Indonesia maka dia harus menjadi pemeluk agama yang punya kitab, karena tidak mungkin di KTP tertulis seseorang adalah pemeluk animisme dsb. Ini juga menjadi sebuah masalah kan, bagaimana pendekatan budaya tidak digunakan dalam sebuah usaha integrasi masyarakat. Contoh lain yang jauh lebih gampang adalah ketika zaman ORBA, beras diagung-agungkan sebagai makanan pokok, dan posisi sagu secara tidak langsung seperti dipinggirkan. Padahal masyarakat Papua mengenal sagu sebagai makanan pokok. Jadi kembali lagi ke pendekatan budaya yang tidak dipakai dalam usaha integrasi.

Pernyataan lain yang cukup menggelitik dari seorang mahasiswa UI yang pernah KKN di Papua adalah, pernahkah siswa SD kita belajar tentang kebudayaan Papua di masa lampau, seperti halnya Majapahit, Sriwijaya, Bugis dsb. Kita tidak menemui satu pun materi tentang Papua dalam buku ajar SD-SMP, bagaimana rasanya ketika anda menjadi seorang anak Papua dan belajar di sekolah namun tidak menemukan apa pun tentang leluhurnya dalam buku ajar. Padahal ketika sang mahasiswa ini ngobrol dengan penduduk di sana, diceritakan bahwa Papua memiliki sebuah peradaban tersendiri akan halnya kerajaan lain di Jawa, Kalimantan dsb. Dalam buku ajar saja seperti sudah didoktrin bahwa Papua bukan bagian dari kejayaan masa lalu Indonesia. Jadi apabila dilihat dari sisi ini, seorang anak Papua secara tidak langsung bakal merasa dia tidak memiliki Indonesia.

Bagaimana menurut anda pandangan-pandangan tersebut?? 

Yah, selama ini kita selalu didoktrin bahwa NKRI harga mati, dan separatisme dalam bentuk apa pun adalah kesalahan fatal dan harus dihukum sebrat-beratnya. Cobalah melihat dari sudut pandang obyektif ketika analogi dan kasus di atas memang terjadi di masyarakat kita.

O, iya sebuah pertanyaan menarik dari mahasiswa asli Papua, Ketika masyarakat di Papua menuntut adanya keadilan yang sampai saat ini belum dirasakan mayoritas warga, pantaskah dia mendapat sebutan sebagai seorang separatis????

Tulisan ini hanya sebuah refleksi dari sebuah seminar, dan mencoba melihat masalah Papua dari perspektif yang lain, artikel ini sifatnya berbagi ilmu, jadi mohon dikomentari secara kritis, bagaimana anda melihat analoginya Mas Dave Lumenta, sebuah kritik sinisme Prof. Anhar, dll.

Monggo dikomentari… kalau perlu kritik habis sekalian.

http://www.facebook.com/notes/afiat-anang/understanding-our-nation/10150456282147113

| More
Page Rate:
Rate this page:

Kirim komentar anda

Komentar

Halaman ini belum dikomentari.

Feed RSS untuk komentar pada halaman ini | RSS feed for all comments

 
 

Jl. Kemang Selatan No. 98 Jakarta Selatan 12560 - Indonesia
P: 6221 7817211 F: 6221 7817212 E: thc@habibiecenter.or.id