Masuk | Daftar
 

Artikel

Survei Tingkat Literasi Mahasiswa terhadap Media dan Informasi

oleh S.F. Lussy Dwiutami Wahyuni & Evita on 29 April 2008 | 0 Komentar

Topik : ,

http://lussysf.multiply.com/journal/item/69

PENDAHULUAN

Sebagaimana diketahui, peradaban masa depan adalah masyarakat informasi (information society), yaitu peradaban dimana informasi sudah menjadi komoditas utama, dan interaksi antar manusia sudah berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK), demikian antara lain sambutan tertulis Menkominfo yang disampaikan oleh Deputi Bidang SDM Kominfo Ir. RSY. Kusumastuti pada acara pembukaan Diklat Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk kalangan aparatur negara yang diselenggarakan di Jakarta, atas kerja sama Depkominfo dan Japan International Cooperation Agency (ccl – admin). Selain itu, perkembangan teknologi informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan elife, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini, sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e, seperti ecommerce, egovernment, eeducation, elibrary, ejournal, emedicine, elaboratory, ebiodiversity, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika (Wardiana, 2002).
Seperti telah diungkapkan di atas, eletronik secara tidak langsung mempunyai peran strategis dalam mengembangkan masyarakat informasi. Mengapa demikian, karena elektronik bertindak sebagai perantara atau media yang membawa atau menyuarakan informasi dari pengirim ke penerima. Jadi, tidaklah mengherankan jika saat ini pertumbuhan informasi berbanding lurus dengan keberadaan media yang berkembang di masyarakat.
Antara media dan informasi bagai 2 sisi mata uang yang saling berdekatan dan mempunyai hubungan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Informasi akan mudah dan cepat tersampaikan dengan adanya campur tangan media. Mediapun akan sedikit kehilangan giginya bila tidak ada yang disuarakannya. Jadi bisa dikatakan, media hadir untuk mempermudah dan mempercepat lajunya informasi sampai ke sasaran, sebaliknya informasi ada untuk mengisi media.
Untuk itu guna menuju transformasi masyarakat menuju masyarakat informasi dan masyarakat berbasis pengetahuan, tidak saja membutuhkan infrastruktur (hardware, software, aplikasi, dan konektivitas/akses) yang handal, dan regulasi (peraturan) yang mendukung, tetapi juga sumber daya manusia (SDM) atau brainware dengan tingkat literasi (melek) media yang memadai dan kemampuan mengeksplorasi konten (literasi informasi) untuk menciptakan kemakmuran (ccl – admin). Bahkan dalam sebuah papernya, Fasli Jalal dan Nina Sardjunani menghubungkan antara tingkat literasi dengan harapan hidup masyarakat. Ternyata ada korelasi yang positif antara keduanya, artinya semakin tinggi tingkat literasi sebuah masyarakat semakin tinggi pula harapan hidupnya (Isnaini).
Fenomena di atas akhirnya menimbulkan pelbagai paradigma baru dalam pendidikan. Pendidikan sebagai sarana belajar kian mendapatkan tantangan, ketika dihadapkan dengan zaman yang menurut para teorisi teknologi komunikasi (Marshall McLuhan dan Regis Debray)  dikenal sebagai “The Age of Media Society”  (Astuti).
Kampus sebagai salah satu produsen yang membidani terbentuknya sebuah masyarakat intelektual, sudah sepantasnya ikut mengambil bagian dalam pewujudan masyarakat informasi seperti yang telah diungkapkan di atas. Namun sayangnya, tidak mudah untuk mewujudkan hal tersebut. Kendala yang melingkari terciptanya masyakat literat ini tidak lain adalah sebagai berikut (Bukhori, 2005) :
Pertama, budaya minat baca bangsa Indonesia masih tergolong rendah. Terbukti, kebanyakan kita merasa lebih berani merogoh saku lebih tebal untuk membeli kebutuhan lain seperti makanan, pakaian, perhiasan, dan bahkan alat-alat rumah tangga, ketimbang membeli buku. Tingkat ekonomi yang rendah sering menjadi alasan lemahnya daya beli buku masyarakat. Karenanya, kita menjadi tidak akrab dan merasa asing dengan buku dan memiliki minat membaca yang rendah.
Kedua, karena adanya dampak negatif perkembangan teknologi bagi masyarakat. Masyarakat kita yang awalnya bertradisi lisan atau oral society secara drastis bergerak ke budaya elektronik seperti TV dan radio, sebelum memasuki budaya tulis secara ajek. Kita telah langsung melompat dari tradisi mendongeng ke tradisi menonton sebelum terbiasa dengan tradisi membaca.
Ditambah lagi, tipe pendidikan di Indonesia masih cenderung menganut interaksi satu arah dalam proses pembelajarannya. Dengan kondisi seperti ini, semakin mempertebal fakta bahwa keterampilan anak didik di Indonesia hanya sebatas sampai tataran menjadi pendengar yang baik saja. Terjadi demikian, karena mereka terbiasa hanya mempersiapkan telinga untuk belajar tanpa tahu bagaimana caranya mencari sampai meramu sebuah informasi. Jadi, tidak heran apabila diberikan kepadanya sebuah tugas yang mengharuskan mereka untuk mensintesis sebuah informasi, yang dikumpulkan hanya seperti memindahkan sumber ke tempat yang lain dengan dipertautkan atau dijahit dengan sumber yang lain tanpa dimaknai dengan hasil pemikirannya sendiri. Fenomena ini, merupakan miniatur yang menggambarkan secara jelas tentang bagaimana tingkat literasi anak didik (dalam hal ini mahasiswa).
Kendala-kendala yang telah dihadirkan di atas, diperparah lagi dengan kenyataan bahwa keterampilan meliterasi media tidak selalu terintegrasi dengan mata kuliah yang diajarkan (tergantung dosennya). Media hanya dijadikan sebagai bahan bantu mengajar saja, bukan sebagai salah satu sumber belajar. Hal ini disebabkan karena minimnya fasilitas dan performance dosen yang kadang ”jauh” dari media.
Padahal, bergelut dengan berbagai media dan menjadikannya sebagai sumber belajar banyak sekali informasi yang dapat ditimba dan gali darinya. Agar dalam pemanfaatannya menjadi efektif dan efisien, dibutuhkanlah kemampuan yang baik dalam membaca, menulis, serta kemampuan untuk mengkomunikasikan secara komprehensif informasi yang didapat dari berbagai media yang ada, selanjutnya disebut dengan literasi media dan informasi.
Kemampuan literasi media dan informasi wajib dimiliki mahasiswa, jika mereka tidak mau ketinggalan dan menjadi “asing” di masyarakat yang telah dikelilingi informasi ini. Dengan dimilikinya dua kemampuan tersebut pada diri mahasiswa, akan memudahkan mereka untuk merealisasikan slogan ”lifelong education”. Selain itu juga, keterampilan untuk meliterasi media dan informasi adalah salah satu strategi utama yang dikumandangkan UNESCO untuk dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Yang semakin memperkuat lagi keharusan memiliki kedua keterampilan ini, karena kedua keterampilan literasi ini banyak diproyeksikan para ahli sebagai 21st century skills yang dapat dijadikan password untuk dapat melenggang dengan sukses dalam masyarakat informasi (ncrel.org).
Pendapat di atas senada dengan pernyataan Dan Blake tentang alasan perlunya mengajarkan media literasi pada mahasiswa, yaitu : (1) kita hidup ditengah lingkungan bermedia, (2) literasi media menekankan pada pemikiran kritis,(3) menjadi literat terhadap media merupakan bagian dari pembelajaran terhadap warga negara, (4) dengan mempunyai literasi terhadap media membuat kita dapat berperan aktif dalam lingkungan yang dipenuhi dengan media, (5) pendidikan media membantu kita dalam memahami teknologi komunikasi, dan (6) literasi media sudah terintegrasi dalam area K-12.
Berdasarkan hal di atas maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut:
Bagaimanakah tingkat literasi mahasiswa terhadap media dan informasi (media and information literacy)?

KAJIAN TEORETIS

Literasi Media
Istilah literasi media diciptakan di mid-2004 untuk menggabungkan  literasi lainnya dengan visual (Ofcom, 2004). Ofcom mengatakan literasi adalah keterampilan untuk mengakses, menganalisa, mengevaluasi dan sekaligus mengkomunikasikannya dalam berbagai macam format. Lebih daripada itu adalah mampu mengenali dan mengerti informasi secara komprehensif untuk mewujudkan cara berpikir kritis, seperti tanya jawab, menganalisa dan mengevaluasi informasi itu.
Wikipedia, the free encyclopedia, menyebutkan bahwa media literacy adalah keterampilan untuk memahami sifat komunikasi, khususnya dalam hubungannya dengan telekomunikasi dan media massa. Konsep ini diterapkan pada beragam gagasan yang berupaya untuk menjelaskan bagaimana media menyampaikan pesan-pesan mereka, dan mengapa demikian.
Media Literacy di Indonesia lebih dikenal dengan istilah Melek Media. James Potter dalam bukunya yang berjudul “Media Literacy” (Potter, dalam Kidia) mengatakan bahwa media Literacy adalah sebuah perspekif yang digunakan secara aktif ketika, individu mengakses media dengan tujuan untuk memaknai pesan yang disampaikan oleh media. Jane Tallim menyatakan bahwa media literacy adalah kemampuan untuk menganalisis pesan media yang menerpanya, baik yang bersifat informatif maupun yang menghibur.
Allan Rubin menawarkan tiga definisi mengenai media literacy. Yang pertama dari National Leadership Conference on Media Literacy (Baran and Davis, 2003) yaitu kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan pesan. Yang kedua dari ahli media, Paul Messaris, yaitu pengetahuan tentang bagaimana fungsi media dalam masyarakat. Yang ketiga dari peneliti komunikasi massa, Justin Lewis dan Shut Jally, yaitu pemahaman akan batasan-batasan budaya, ekonomi, politik dan teknologi terhadap kreasi, produksi dan transmisi pesan. Rubin juga menambahkan bahwa definisi-definisi tersebut menekankan pada pengetahuan spesifik, kesadaran dan rasionalitas, yaitu proses kognitif terhadap informasi. Fokus utamanya adalah evaluasi kritis terhadap pesan. Media literasi merupakan sebuah pemahaman akan sumber-sumber dan teknologi komunikasi, kode-kode yang digunakan, pesan-pesan yang dihasilkan serta seleksi, interpretasi dan dampak dari pesan-pesan tersebut.
 
Elemen-Elemen Literasi Media
Terdapat dua pandangan mengenai media literacy yaitu dari Art Silverblatt dan James Potter (Potter dalam Kidia). Silverblatt menyatakan bahwa seseorang dikatakan memiliki keterampilan literasi media apabila dirinya memuat faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Sebuah kesadaran akan dampak media terhadap individu dan masyarakat
  2. Sebuah pemahaman akan proses komunikasi massa
  3. Pengembangan strategi-strategi yang digunakan untuk menganalisis dan membahas pesan-pesan media
  4. Sebuah kesadaran akan isi media sebagai ‘teks’ yang memberikan wawasan dan pengetahuan ke dalam budaya kontemporer manusia dan diri manusia sendiri
  5. Peningkatan kesenangan, pemahaman dan apresiasi terhadap isi media.

Di sisi lain, Potter (Baran and Davis, 2003 dalam Kidia) memberikan pendekatan yang agak berbeda dalam menjelaskan ide-ide mendasar dari media literacy, yaitu:

  1. Sebuah rangkaian kesatuan, yang bukan merupakan kondisi kategorikal
  2. Media literacy perlu dikembangkan dengan melihat tingkat kedewasaan seseorang
  3. Media literacy bersifat multidimensi, yaitu domain kognitif yang mengacu pada proses mental dan proses berpikir, domain emosi yaitu dimensi perasaan, domain estetis yang mengacu pada kemampuan untuk menikmati, memahami dan mengapresiasi isi media dari sudut pandang artistik, dan domain moral yang mengacu pada kemampuan untuk menangkap nilai-nilai yang mendasari sebuah pesan
  4. Tujuan dari media literacy adalah untuk memberi kita kontrol yang lebih untuk menginterpretasi pesan.

 
Literasi Informasi
Literasi informasi terdiri dari dua kata, yakni literasi dan informasi. Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis atau dengan kata lain melek aksara. Dari kedua macam definisi sederhana tadi, maka dapat diambil kesimpulan bahwa literasi informasi adalah kemampuan untuk mencari, mempelajari, dan memanfaatkan berbagai sumber informasi dalam berbagai bentuk. Istilah literasi informasi juga dapat disamakan dengan istilah ’melek informasi’.

  • Dalam CILIP dikemukan bahwa literasi informasi adalah  keterampilan untuk mengetahui kapan dan mengapa kita membutuhkan sebuah informasi, dimana mendapatkannya, bagaimana cara mengevaluasinya, menggunakan dan mengkomunikasikannya dengan tata cara yang benar.
  • Sedangkan menurut APISI “Literasi informasi adalah seperangkat ketrampilan untuk mendapatkan jalan keluar dari suatu masalah yang ada. Ketrampilan ini mencakup ketrampilan mengidentifikasi masalah, mencari informasi, menyortir, menyusun, memanfaatkan, mengkomunikasikan dan mengevaluasi hasil jawaban dari pertanyaan atau masalah yang dihadapi tadi” (dalam rettamd.blogspot.com).

 
Keterampilan Literasi Informasi
Seseorang dikatakan memiliki keterampilan literasi informasi jika memiliki keterampilan sebagai berikut :

  1. mengetahui kebutuhan akan informasi
    Dalam tahap ini, seseorang tahu bahwa sebuah informasi diperlukan; kenapa informasikan tersebut diperlukan,  apa yang diperlukan dari sebuah informasi (berapa banyak; seperti apa) dihubungkan dengan batasan-batasan yang ada (seperti waktu, bentuk, finansial, akses); mengenali bahwa informasi itu tersedia di suatu cakupan luas dari bentuk-bentuk dalam berbagai lokasi-lokasi maya dan geografis.
    Informasi bisa tersedia secara tertulis (buku, acuan bekerja, jurnal-jurnal, surat kabar, surat kabar, dll), secara digital (CD-ROMs, internet atau World Wide Web, DVDs, komputer, website pribadi, dll), melalui media yang lain seperti siaran atau film, atau dari seorang rekan kerja atau teman.
    Intinya dalam tahap ini ia sudah dapat mengambil keputusan yang tepat saat dia membutuhkan informasi, dengan cara mencari informasi dari tempat terdekat, cepat, dan mudah.
  2. mengetahui dimana sumber informasi
    Dalam tahap ini, seseorang sudah dapat mengidentifikasi apakah sumber dari informasi tersebut dapat dieksploitasi/digunakan, mengetahui dimana informasi tersebut tersedia, mengetahui bagaimana cara mengaksesnya, mengetahui baik buruk individu yang menjadi nara sumbernya, kapan informasi tersebut sesuai digunakan, dan apa yang menjadi perbedaan diantaranya. Contoh : artikel jurnal ada yang tersedia dalam bentuk tercetak, elektronik, dan ataupun sebagai database saja.
  3. memahami bagaimana memperoleh informasi
    Dalam tahap ini, seseorang sudah memiliki keterampilan untuk dapat mencari informasi secara cepat dari berbagai sumber yang terkait dengan pencarian. Selain itu, dalam tahap ini seseorang sudah memiliki strategi kapan dia harus mulai dan mengakhiri pencarian informasi hanya dengan membaca sekilas sebuah sumber informasi. Intinya dalam tahap ini seseorang sudah memiliki keterampilan ”purposive searching”
  4. memiliki pemahaman tentang kebutuhan untuk mengevaluasi hasil temuan informasi
    Dalam tahap ini, seseorang sudah mempunyai kesadaran untuk mengecek keakuratan, keaslian, ataupun apakah isi dari informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan (dengan kata lain tidak menyesatkan).
  5. mengetahui bagaimana cara untuk bekerja dengannya atau mengolah informasi yang didapat
  6. Dalam tahap ini, seseorang sudah tahu bahwa untuk memahami sebuah informasi dia terlebih dahulu harus memaknai dan mengolah informasi yang didapatnya. Cara yang biasa digunakan adalah dengan membandingkan, mengkombinasikan, menambah catatan, dan menerapkan (penggunaan) informasi ditemukan. Selanjutnya, berakhir dengan keputusan apakah perlu mencari informasi tambahan atau tidak.
  7. memiliki etika dan tanggung jawab dalam penggunaannya
    Dalam tahap ini, seseorang sudah memiliki etika dan rasa tanggung jawab yang tinggi dalam setiap menggunakan informasi yang diperolehnya. Salah satu caranya, yaitu dengan mencantumkan sumber asal informasi tersebut diperoleh. Hal ini untuk menjauhkan plagiat dan ketidakadilan dalam menggunakan informasi.
  8. memiliki pemahaman tentang bagaimana caranya mengkomunikasikan atau membagi apa yang telah ditemukan
    Dalam tahap ini, seseorang sudah mengetahui sekaligus memahami bagaimana caranya mengkomunikasi informasi yang dia dapatkan secara benar. Selain itu, seseorang dalam tahap ini sudah memiliki kemampuan mensintesa (lebih dari sekedar analisa) dan selanjutnya dapat menginformasikannya dalam format diseminasi yang sesuai.
  9. memiliki pemahaman tentang bagaimana memanej sebuah temuan
    Dalam tahap ini, seseorang sudah mengetahui sekaligus memahami bagaimana caranya menyimpan dan mengatur informasi yang sudah diperolehnya dengan menggunakan metoda-metoda yang paling efektif. Hasil temuannya tersebut dapat mencerminkan proses berpikir kritisnya dalam mengolah dan meramu kembali semua informasi yang telah diperolehnya.

Jadi, seseorang yang memiliki tingkat literasi informasi yang tinggi mengetahui lebih dari hanya sekedar bagaimana memperoleh informasi. Mereka juga memahami batasan-batasan dan kebutuhan untuk menguji bagaimana mereka menggunakan informasi, dan mereka memahami bagaimana caranya mengatur dan mengkomunikasikan informasi. Informasi melek huruf adalah satu keterampilan terpisah dan sangat penting bagi setiap orang yang setiap harinya selalu bergulat dengan informasi.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Pendekatan yang dilakukan adalah bersifat deskriptif yaitu penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara  sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.
Data diperoleh dari 150 mahasiswa dengan teknik quota sampling dan insidental sampling, kemudian data dijaring dengan menggunakan instrumen kuesioner/angket.
Data yang telah terjaring dihimpun dan didistribusikan dalam bentuk tabel dengan perhitungan analisis secara deskriptif. Sedangkan pada tahap proses penafsiran, disajikan dengan cara diskusi antara perolehan informasi secara empiris dengan kajian teori yang relevan.

HASIL PENELITIAN

Tingkat Literasi Mahasiswa terhadap Media (Media Literacy)
Literasi media adalah salah satu keterampilan yang harus dimiliki seseorang dalam era globalisasi. Dikatakan demikian, karena dalam era tersebut manusia akan semakin sering bersinggungan dengan media. Baik itu untuk menambah wawasan atau pengetahuan maupun hanya untuk sekedar sebagai sarana hiburan pelepas penat saja.
Ada lima hal yang disoroti dalam keterampilan literasi media ini, mulai dari kesadaran individu atau masyarakat terhadap dampak media sampai dengan bagaimana individu atau masyarakat memposisikan dan mengapresiasikan  media dalam kehidupannya sehari-hari.
Kehadiran ragam media yang mulai memadati segala bidang kehidupan manusia ditanggapi positif oleh sebagian besar responden. Walaupun begitu, merekapun sadar bahwa kehadiran media juga tidak terlepas dari dampak negatifnya. Mereka juga beranggapan, media memiliki peran strategis dalam proses komunikasi khususnya komunikasi massa. Ditarik kesimpulan demikian, karena hampir seluruh responden menyatakan bahwa informasi yang terkandung dalam media massa dapat membantu terjadinya komunikasi diantara masyarakat dan media juga dapat membentuk suatu opini tertentu ditengah-tengah masyarakat tentang berbagai hal.
Seseorang yang memiliki keterampilan literasi media tidak akan langsung mempercayai sebuah berita sebelum mengkrosceknya dengan sumber lain. Yang biasa dilakukan adalah memilih media yang diakui kredibilitasnya, mengkroscek keakuratan berita dengan sumber lain, dan akan selalu mencari kelengkapan suatu berita yang didengarnya dari orang lain di dalam suatu media massa. Bila dibandingkan dengan ketiga hal tersebut, hampir setengah dari jumlah responden tidak melakukan kroscek ulang terhadap berita yang telah didapatnya.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, selain memiliki dampak negatif media juga memiliki banyak dampak positif. Kata yang paling mudah untuk menggambarkan dampak positif dari media adalah “gudang informasi”. Dengan adanya media, individu atau masyarakat terbantu dalam hal mengembangkan wawasan dan pengetahuannya. Ini dibuktikan, lebih dari setengah responden menyatakan merasa tidak nyaman bila tidak berhubungan dengan media walaupun hanya satu hari. Tetapi, bukan berarti mereka hanya menghargai pendapat/hasil karya orang lain yang ditampilkan dalam media massa saja. Karena, walau bagaimanapun juga mereka beranggapan bahwa beragam media dan corak yang muncul saat ini telah mampu menambah pemahaman mereka tentang peristiwa yang sedang menggejala di dunia ini.
Ironinya hampir sebagian besar responden (96%) membaca atau menonton media massa hanya sebagai salah satu hiburan bukan untuk mencari informasi. Merekapun tetap menghargai isi media tersebut, walaupun mereka tidak menyukai gaya penyampaiannya.
Pembahasan di atas bila dilandasi pendapat Ofcom, secara sederhana dapat digambarkan bahwa individu yang telah memiliki keterampilan literasi media mempunyai kemampuan untuk mengakses, menganalisa, mengevaluasi dan sekaligus mengkomunikasikannya dalam berbagai macam format. Lebih daripada itu, mereka juga mampu mengenali dan mengerti informasi secara komprehensif untuk mewujudkan cara berpikir kritis, seperti tanya jawab, menganalisa dan mengevaluasi informasi itu.
Dengan menggabungkan antara keadaan lapangan dengan teori yang sudah dijabarkan, dapat ditarik suatu kata bahwa keterampilan mahasiswa terhadap literasi media tidak begitu mengkhawatirkan. Karena, mereka sudah mempunyai kemampuan untuk mengakses, berpikir kritis untuk melihat dampak yang menyertai kehadiran sebuah media, sampai dengan mampu mengenali dan mengerti keakuratan sebuah informasi/berita (dengan melakukan kroscek dengan media lainnya). Namun, yang menjadi catatan dan sangat disayangkan masih banyak yang memposisikan atau melakukan kegiatan bermedia massa hanya untuk hiburan semata. Jadi secara ekstrem bisa dikatakan, bahwa penambahan wawasan atau pengetahuan hanya dijadikan sebuah bonus atau efek dari tujuan utamanya, yaitu hiburan.
 
Tingkat Literasi Mahasiswa Terhadap Informasi (Information Literacy)
Keterampilan literasi terhadap informasi harus sejalan dengan keterampilan literasi terhadap media. Dikatakan harus sejalan, karena dalam proses perjalanannya antara media dan informasi saling terkait. Media adalah sarana untuk pencarian informasi dan sebaliknya, informasi akan mudah tersampaikan kalau melalui jasa sebuah media.
Individu bisa dikatakan memiliki keterampilan literasi informasi apabila ia sudah tahu akan kebutuhan informasi sampai paham bagaimana caranya memanej informasi yang telah ditemukannya.
Mengetahui akan kebutuhan informasi dalam diri seorang individu yang pertama adalah seberapa intenskah dia mencari sebuah informasi dan apakah informasi yang dia cari hanya sebatas perintah ataukah memang karena adanya kesadaran penuh akan artinya sebuah informasi. Dari hasil survei, tergambar 61.3 % responden sudah mengakses informasi setiap hari dan hanya 32 % responden yang menyatakan, mereka mencari informasi hanya untuk sekedar memenuhi kewajiban saja (dalam hal ini penyelesaian tugas) dan 37,3 % responden menyatakan informasi yang mereka cari berkaitan dengan bidang pendidikan. Dari data ini ada 2 kemungkinan yang muncul, pertama memang mereka menyukai pendidikan dan yang kedua berhubung tempat mereka bernaung adalah Fakultas Ilmu Pendidikan, maka tugas yang diberikanpun sedikit banyaknya menyerempet ke bidang pendidikan juga. Rata-rata dari mereka memperoleh informasi melalui media dalam bentuk digital (44.7%) dan paper (44.0%).
Tahu sumber, belum tentu individu paham bagaimana memperoleh sebuah informasi. Cara yang bisa dilakukan untuk melihat tingkat kepahaman seseorang dalam mencari informasi adalah memilih sumber yang mudah untuk diakses/jangkau, melihat judul sumber bisa dijadikan sebagai hal kilat yang dapat dijadikan alasan pensearchingan informasi, dan berusaha untuk terus mencari ke sumber yang lain bila belum menemukan informasi yang diinginkan. Ketiga hal yang diungkapkan sebelumnya, adalah tingkatan teratas yang dipilih para rseponden untuk menyatakan kepahamannya dalam memperoleh sebuah informasi.
Selain paham memperoleh, individu juga harus paham bagaimana mengevaluasi sebuah informasi yaitu dengan jalan melihat waktu pembuatannya dan mencari tahu tingkat keakuratan informasi yang diperoleh tersebut (hampir semua responden menyatakan telah melakukan hal tersebut dalam rangka mengevaluasi sebuah informasi).
Informasi yang telah didapat dari suatu sumber, hendaknya tidak ditelan ataupun diadopsi mentah-mentah. Sebelumnya kita harus mengolahnya terlebih dahulu dengan cara mencari kaitan diantara beragam informasi yang diperoleh (triangulasi), menambah masukan dari informasi lainnya (hampir seluruh responden menyatakannya demikian).
Kesadaran akan etika dalam mencari dan mengemukakan sebuah informasi dari responden sudah ada, terbukti sebanyak 130 responden (86.7%), menyatakan mencantumkan nama nara sumber saat mengutip pendapatnya. Sebanyak 54.0% responden menyatakan selalu mengkomunikasikan secara utuh/tanpa dipotong suatu pendapat/teori tertentu yang berhasil diperolehnya. Selanjutnya, informasi yang telah mereka temukan akan disampaikan kembali kepada orang lain, setelah sebelumnya mencari tahu tingkat kebenaran informasi dengan membandingkan dengan sumber lain yang sejenis.
Dalam CILIP dikemukan bahwa literasi informasi adalah  keterampilan untuk mengetahui kapan dan mengapa kita membutuhkan sebuah informasi, dimana mendapatkannya, bagaimana cara mengevaluasinya, menggunakan dan mengkomunikasikannya dengan tata cara yang benar.
Bila dilihat dari hasil yang telah didapat, rata-rata keterampilan mahasiswa terhadap literasi informasi masih sebatas sampai keterampilan bagaimana memperoleh informasi, ditambah dengan tahapan terakhir yaitu memanej sebuah temuan informasi, sedangkan tahapan yang berada diantaranya masih sedikit terlupakan dan terkesampingkan dalam pelaksanaannya.
Jadi bila ditarik kesimpulan, kemampuan mahasiswa terhadap literasi informasi belum penuh ataupun sempurna, karena ada beberapa tahapan penting dalam pencarian sebuah informasi yang masih sedikit terlupakan.

KESIMPULAN

Secara umum kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa belum semua mahasiswa memiliki keterampilan dalam hal literasi media dan informasi. Bila sudah memiliki keterampilan tersebut, tidak semua tahapan (khususnya literasi informasi) mereka lalui/jalani secara sempurna (ada beberapa tahapan yang secara tidak sengaja agak sedikit terkesampingkan).
Secara khusus penelitian ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut :

  1. Dengan menggabungkan antara keadaan lapangan dengan teori yang sudah dijabarkan, dapat ditarik suatu kata bahwa keterampilan mahasiswa terhadap literasi media tidak begitu mengkhawatirkan. Mereka sudah mempunyai kemampuan untuk mengakses, berpikir kritis untuk melihat dampak yang menyertai kehadiran sebuah media, sampai dengan mampu mengenali dan mengerti keakuratan sebuah informasi/berita (dengan melakukan kroscek dengan media lainnya). Namun, yang menjadi catatan dan sangat disayangkan masih banyak yang memposisikan atau melakukan kegiatan bermedia massa hanya untuk hiburan semata. Jadi secara ekstrem bisa dikatakan, bahwa penambahan wawasan atau pengetahuan hanya dijadikan sebuah bonus atau efek dari tujuan utamanya, yaitu hiburan.
  2. Bila dilihat dari hasil yang telah didapat, rata-rata keterampilan mahasiswa terhadap literasi informasi masih sebatas sampai keterampilan bagaimana memperoleh informasi, ditambah dengan tahapan terakhir yaitu memanej sebuah temuan informasi, sedangkan tahapan yang berada diantaranya masih sedikit terlupakan dan terkesampingkan dalam pelaksanaannya. Jadi bila ditarik kesimpulan, kemampuan mahasiswa terhadap literasi informasi belum penuh ataupun sempurna, karena ada beberapa tahapan penting dalam pencarian sebuah informasi yang masih sedikit terlupakan.

 

| More
Page Rate:
Rate this page:

Kirim komentar anda

Komentar

Halaman ini belum dikomentari.

Feed RSS untuk komentar pada halaman ini | RSS feed for all comments

 
 

Jl. Kemang Selatan No. 98 Jakarta Selatan 12560 - Indonesia
P: 6221 7817211 F: 6221 7817212 E: thc@habibiecenter.or.id